Pendidikan Karakter Antara Harapan dan Impian

PENDIDIKAN KARAKTER ANTARA HARAPAN DAN IMPIAN
Oleh : Iin Sofiyani
(Mahasiswa Pendidikan Matematika Universitas Muhammadiyah Surakarta)

Keadaan di negeri ini semakin lama semakin mengkhawatirkan. Degradasi moral mengahantui setiap insan yang mau memikirkannya. Kekerasan dimana – mana, tindak kejahatan merajalela. Berita – berita di TV setiap hari menyajikan berbagai tindakkan menyimpang baik yang berasal dari masyarakat biasa sampai pejabat pemerintahan, seolah – olah masyarakat di negeri ini kehilangan jati diri mereka.

Kenyataan ini membuat para penentu kebijakan mengembar – gemborkan lagi perlunya pendidikan karakter di dunia pendidikan, yang sebenarnya sudah ada sejak dahulu. Pendidikan karakter di Indonesia pada zaman pra kemerdekaan, yang dikenal adalah pendidikan atau pengajaran budi pekerti yang menamkan dalam peserta didik asas – asas moral, etika, dan etiket yang melandasi sikap dan tinglah laku dalam pergaulan sehari – hari. Memasuki era demokrasi terpimpin pada awal 1960an, pendidikan karakter dikampanyekan dengan hebat dan dikenal dengan national and character building. Namun dalam perjalanannya, dihancurkan oleh doktrin – doktrin yang melemahkan (Ki SugengS., 2010: 22). Pada masa orde baru, indoktrinasi tersebut berganti pada Penataran P4(Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) yang bukan hanya menjadi pelajaran wajib tetapi juga penataran wajib. Pada masa Reformasi digulirkanlah Kurikulum Berbasis Kompetensi yang membidani kembali lahirnya pelajaran budi pekerti.

Menurut Nursalam Sirajudin, istilah karakter baru dipakai secara khusus dalam konteks pendidikan pada akhir tahun ke – 18. Pencetusnya adalah FW. Foerster. Termonologi ini mengacu pada sebuah pendekatan idealis– spiritualis dalam pendidikan yang juga dikenal dengan teori pendidikan normatif. Lahirnya pendidikan karakter merupakan sebuah usaha untuk menghidupkan kembali pedagogi ideal – spiritual yang sempat diterjang gelombang positivisme yang dipelopori oleh filusuf Prancis, Auguste Comte.

Karakter merupakan titian ilmu pengetahuan dan keterampilan. Pengetahuan tanpa landasan kepribadian yang benar akan menyesatkan, dan keterampilan tanpa kesadaran diri akan menghancurkan. M Furqon Hidayatullah mengutip pendapatnya rutland (2009 : 1 ) yang mengemukana bahwa karakter berasal dari bahasa latin kata “kharakter”, “kharassein”, “kharax” yang berarti “ dipahat”. Secara harfiah, karakter adalah mental atau moral, kekuatan moral, atau reputasinya (Hornby dan Parnwell, 1972: 49). Dalam kamus psikologi, dinyatakan bahwa karakter adalah kepribadian ditinjau dari titik tolak etis atau moral, misalnya kejujuran seseorang; biasanya mempunyai kaitan dengan sifat – sifat yang relative tetap (Dali Gulo, 1982: 29). Karakter menurut Ryan dan bohlin, mengandung tiga unsur pokok yaitu megetahui kebaikan (knowing the good), mencintai kebaikan (loving the good), dan melakukan kebaikan (doing the good).Dengan demikian pendidikan karakter adalah sebuah upaya untuk membimbing metal atau moral dan perilaku menuju standar – standar yang baku.

Pembentukan karakter merupakan salah satu tujuan pendidikan naisonal. Pasal 1 UU SISDIKNAS tahun 2003 menyatakan bahwa diantara tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik untuk memiliki kecerdasan, kepribadian, dan akhlaq mulia. Begitu luhurnya tujuan dari pendidikan di negeri ini, Namun pada kenyataan nya tujuan itu masih menjadi harapan atau dengan kata lain belum terwujud.
Sekolah – sekolah belum mampu mengimplementasikan pendidikan karakter. Hal ini terbukti dari beberapa kejadian yang terjadi di dunia pendidikan diantaranya tawuran antar pelajar yang meresahkan warga di berbagai tempat terutama dikota besar. Lebih ironis ketika kejadian itu berlangsung di sekolah, sekolah tak mampu menyelesaikan masalah tersebut dan harus meminta bantuan polisi yang berujung pada pemenjaraan karena dianggap tindakan criminal. Selain itu etos kerja yang buruk, rendahnya disiplin diri dan kurangnya semangat untuk bekerja keras, keinginan untuk memperoleh hidup yang mudah tanpa kerja keras, nilai materialism (materealism, hedonism) menjadi gejala yang umum dimasyarakat. Daftar ini masih bisa diperpanjang dengan berbagai kasus lainnya seperti pemerasan siswa terhadap siswa lain, kecurangan dalam ujian, dan bebagai tindakan yang tidak mencerminkan moral siswa yang baik.
Jika permasalahan itu tak kunjung berkurang lantas siapa yang akan bertanggung jawab? Sekolah, lingkungan atau masyarakat? Semua lini harus bersatu padu agar pendidikan karakter tak hanya menjadi harapan dan impian. Sekolah saja tak cukup menjalankan pendidikan karakter jika keluarga dan lingkungan tak mendukung.

Pendidikan karakter memang menjadi harapan untuk memperbaiki keadaan moral di negeri ini. Bangsa yang baik bisa dilihat dari moral masyarakat bangsa tersebut, jika moral sudah dinomor sekiankan maka tunggulah kehancuran bangsa itu. Impian karena sampai saat ini belum ada hasil yang signifikan sejak pendidikan karakter di gembar – gemborkan lagi. Namun semua butuh proses tak semudah membalikkan telapak tangan, semoga dengan adanya pendidikan karakter yang di amanahkan ini mampu meperbaiki keadaan di negeri ini yang semakin carut marut tanpa ada titik terang yang jelas.


DAFTAR PUSTAKA

Asmani, Jamal Ma’mur. 2011. Buku Panduan Internalisasi Pendidikan Karakter di Sekolah. Yogyakarta : DIVA press (Anggota IKAPI)
Majid, Abdul dan Dian Andayani. 2011. Pendidikan Karakter Perspektif Islam. Bandung :Remaja Rosdakarya offset

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s