Cintaku diantara Rak Buku

Aku mengetahui orang ini secara kebetulan yang tentunya bukan hanya kebetulan semata tapi sudah menjadi rencana Allah.  Aku mengenalnya juga secara kebetulan. Peralahan-lahan aku mulai mengaguminya. Seolah-olah aku telah lama kenal dengannya. Awalanya aku mengetahui namanya dari teman kelas ku yang satu sekolah PPL dengan dia. Aku dulu sering melihat dia ketika aku mau berangkat ke sekolah PPL q dan dia pulang dari sekolah PPL nya. Kebetulan jalur bis ku melewati sekolah PPL nya.

Waktu itu aku duduk-duduk di taman bersama wiwit dan lia serta teman-teman yang lain aku lupa. Tanpa sengaja kita bahas teman-teman PPL. Terbersit dalam fikiranku untuk menanyakan perihal dia. Tapi aku bingung mau bertanya bagaimana karena aku tak tahu siapa dia. Saat aku menoleh, dari arah barat aku melihat sesosok orang yang tentunya tak asing lagi bagiku dan aku sangat mengenalnya. Mengenal dalam artian sebatas tahu wajahnya.

Aku pun mengatakan bahwa ada teman PPL wiwit dan Lia. Mereka pun mencari-cari dan belum menemukan juga. Aku pun memberi tahu dalam beberapa hitungan dia kan kelihatan. Ternyata benar. Dia pun tersenyum pada teman-teman ku itu. Senyum yang pertama kali aku lihat. Dari situ aku mengetahui namanya. Ternyata namanya Nasrullah. Dari situ aku mulai mengetahui namnya. Wiwit dan lia selalu mbodo aku. Mereka meminta aku untuk mengeadd FB nya. Selang beberapa hari aku putuskan ungtuk mengeaddnya. Dan ternyata dia mengkonfirm. Dari FB inilah kita sering ngobrol.

Feeling ku dia anak *** dan tentunya juga anak ***. Ternyata benar meskipun sudah tidak aktif lagi. Selain itu feeling ku yang satu juga benar, dia anak pondok ***. Eh ternyata benar. Aku tidak tahu kenapa ini bisa terjadi. Apakah sudah direncanakan? Ataukah bisikan syaitan. Dari situ kita ngobrol cukup lama dan ya aku jadi mengenalnya meskipun hanya di dunia maya. Sayang sekali aku dahulu lupa menuliskan sehingga lupa tanggal terjjadinya. Dia pernah mengomeni foto-foto di FB ku yang tentunya dia buka-buka profil ku. Sejak saat itu aku sering melihatnya meskipun dia tak pernah melihatku. Aku pun juga pernah bertemu langsung saat makan di aneka penyet, sayangnya dia tak mengenali ku. Cukup aku saja yang mengetahuinya. Bukan hanya sekali aku bertemu dengannya di aneka penyet. Namun, sudah 2 kali aku bertemu dengannya di warung makan. Selebihnya hanya sebatas melihat saja.

Sore itu tepatnya tanggal berapa aku lupa, aku ke perpustakaan. Aku mengenakan kaos hijau dengan kerudung pashmina ku. Sampai depan perpus aku melihatnya, tak tahu kenapa hatiku bener-bener deg-degan. Aku menuju loker tas, tak kusangka dan tak ku duga dia pun menuju ko loker dan ternyata dia di sampingku. Ingin rasnya menyapa, tapi takutnya dia tak mengenaliku. Akhirnya kuputuskan untuk tidak menyapa. Mungkin dia membaca keanehan ku. Buru-buru aku meninggalkan loker dan bergegas masuk ke dalam ruang skripsi. Untungnya dia ke lantai dua. Seandanya dia tidak sama temannya mungkin aku menyapanya. Sampai di dalam aku menyalakan laptpku dan tentunya aku On line.

Aku pun membuka Fb ku sambil mengerjakan yang lain pula. Tiba-tiba dia ngechat aku. Menanyakan posisiku. Aku jawab di perpustakaan, dan aku terangkan saja aku tadi yang ada disampingnya waktu di loker tas. Kami pun terlibat obrolan yang sangat lama. Dia meminta no HP q. begitu aneh mintanya. Dia mengatakan “ada HP?” ya aku jawab ada. Dalam hati aku ingin memberi tahu langsung tanpa di minta. Tapi aku masih jaim. Akhirnya dia meminta no HP ku. Butuh waktu yabg lama untuk memberikan no ku. Ingin rasanya aku memberi lagsung, namun akhirnya otalk pn berputar-putar untuk berfikir. Jika aku memberi langsung, aku takut dia berfikiran aku wanita gampangan karena mau saja menberikan No HP ku. Namun, kalau tidak kapan lagi aku bisa mengetahui nonya dari yang bersangkutan langsung. Skhirnya aku putuskan untuk memberi tahu no Hp Q. tak lama kemudian masuklah no baru di HP ku, yang tentunya no dia. Dari situ kelihatannya dia mulai mengetahui ku bukan hany di dunia maya. Waktu solat asar pun tiba, tetapi di luar masih hujan deras. Dia pengen solat, tetapi kondisi tidak memungkinkan untuk sholat keluar perpustakaan. Akhirnya aku meminta dia untuk sholat di ruang skripsi saja. sebenarnya dia agak pekewuh, karena banyak ceweknya. Itu pengakuannya, entah apa yang membuat pekewuh. Beberapa menit kemudian dia turun memasuki ruang skripsi. Lagi-lagi aku hanya mampu melihatnya, namun saat dia melewati depanku aku tak berani melihatnya. Entah dia mengetahui ku apa tidak aku kurang tahu. Saat dia kembali pun dia juga tidak menyapaku, jangankan menyapa melihat saja tidak. Dia hanya menyapa temannya yang kebetulan duduknya tak jauh dari tempay duduk ku. Lagi-lagi aku hanya mampu melihatnya. Meski hanya melihat hatiku sudah senang tak karuan. Entah aku tak tahu perasaan apa ini.

Hujan di luar pun mulai reda. Tepat pukul 17.00 jam perpustakaan kampus dia keluar menuruni tangga dari lantai dua. Aku melihatnya dan beberapa saat kemudian dia sms aku mengajak untuk pulang. Sebenarnya aku ingin pulang tapi takut ketemu dia. Aku bingung mau ngomong apa kalau ketemu dia. Akhirnya aku menunggu sebentar. Saat aku keluar kelihatannya dia masih di depan perpus. Aku putuskan untuk duduk-duduk dulu sebentar biar dia pergi. Beberapa sat kemudia aku pun keluar dan dia sudah tidak ada. Dalam hati bersyukur namun juga gelo tidak bertemu langsung sekedar senyum atau menyapa. Sejak saat itu itu aku tak pernah lagi bertemu.paling hanya melihatnya dari kejauhan saat aku di selatan audit dan dia di depan ruang dosennya. Meski hanya melihat aku pun sudah sangat bersyukur. Pernah malam-malam kita sms an, tapi ya sekedar sms an biasa tapi rasanya senang sekali hati ini. Sebenarnya aku takut, takut jika perasaan ini terlalu dalam padanya. Aku tahu dia bukan orang jawa dia orang Banjarmasin. Aku pun juga tahu selepas dia selesai kuliah dia langsung oulang ke kampong halamannya. Begitu penuturannya saat kita terlibat dalam percakapan. Aku lupa apakah itu di FB atau sms. Aku juaga takut jika perasaan ini hanylah bisikan syaitan semata. Aku merasa dia adalah orang yang aku cari selama ini. Dari agama dia dapat, dari ideology aku banget.  Dia putra daerah yang dis ekolahkan oleh PWM dan mondok di pondok hajah nuriyah shobron. Dia seorang IMMawan juga yang mungkin nggak aktif. Penampilan ngak akhi-akhi bangets. Dia kadang ngejin, pake kaos. Dan sekarang gondrong pula rambutnya. Tak tahu kenapa begitu lama aku mendambakan seseorang yang sperti ini.  Kupasrahkan semua perasaan ku ini pada ilahi robbi.

Minggu kemarin benar-benar kejadian yang tak kan ku lupakan dalam hidupku. Ini menjadi sepotong episode kehidupanku yang sudah digariskan oleh ilahi robbi. Selasa tepatnya tanggal 22 Mei 2012 aku keperpusatakaan. Sekitar habis solat dzuhur jam setenga satunan. Seperti biasa aku mencari tempat yang sepi dan tentunya ada stop kontaknya. Ternya ada satu meja di bagian utara yang masih kosong. Akupunmenuju tempat itu. Aku mulai membuka laptop ku dan mengerjakan bab 4-5 ku yang tak kunjung di acc. Beberapa saat kemudia aku melihat kedepan tanpa sengaja aku melihat orang yang aku kenal wajahnya. Dia orang yang membuat hatiku tak karuan beberapa waktu ini. Setelah melihatnya aku tak berani melihat lagi feliing ku dia kan menuju meja yang aku singgahi ini. Krena di tempat ini yang paling sepi. Dan ternyata felling ku benar dia menuju tempat ku. Dia tidak sendiri dia bersama hailan temannya. Akupun menundukkan andangan ku. Aku bener-bener takjut. Akhirnya aku putuskan untuk melihatnya dan sekedar senyum. Dia pun membalas senyumku. Setelah itu aku tak berani lagi melihat wajahnya. Hanya curi-curi pandang saja. subhanallah hari itu rambutnya sudah di pangkas. Tidak gondrong lagi. Begitu dia di situ tidak tahu kenapa aku langsung OL membuka FB ku. Aku pun nulis status. Dan dia pun mengomentari statusku dengan menuliskan, “diperpus”? dan aku pun menjawab iya di depanmu. Jawaban yang begitu konyol seharusnya cukup iya saja. dalam hal ng bersamaan dia juga mengechat aku menanyakan perihal posisilu. Perbincangan kami pun berlanjut, tapi hanay lewat FB. Padahal kalau dipikir-pikir lebih enak becara langsung, satu tempat satu meja jaraknya juga tak jauh-jauh banget. Aku takut untuk memulai berbicara langsung. Perbincangan kami berlangsung sangat lama. Sampai adzan asar pun kami masih berchat di FB. Akhirnya aku memutuskan untuk sholat. Saat aku akan sholat pun aku tak berani melihat wajahnya. Dalam hati aku berharap dia juga sholat dan bisa berjamaah. Namun, Allah berkehendak lain. Sampai aku selesai solat asar pun dia tak kunjung masuk. Ternyata dia menunggu aku sampai selesai.

Aku keluar dari ruang sholat dia baru masuk untuk sholat. Dia pun juga tak  menyapaku, meski demikian chatingan pun tetap jalan. Aku menunggu dia agar dia pamitan terlebih dahulu, tapi ternyata dia masih menunggu hailan. Aku ingin dia saja yang pamit karena aku tak berani. Saat aku beres-beres aku pun melihatnya dan dia bertanya padaku. Suara yang pertama kali aku dengar, begitu lirih dan pelan sampai-sampai aku tak mendengarnya. Kami pun ngobrol sebentar, yang tentunya juga bersama hailan. Bibiir ini seolah-olah tak mau bergerak benar-benar grogi aku saat itu. Dan akhirnya akupun memutuskan untuk segera poulang. Semakin lama disitu semakin hatiku tak karoan. Aku pun memberanikan diri untuk pamitan. Dalam perjalanan hatiku benar-benar tak karuan. Aku bingung serasa mimpi ingin rasanya aku mengulang kejadiaan tadi sore. Bercakap-cakkap mengenai banyak hal. Namun, saying itu tak mungkin karena waktu tak mungkin kembali. Di kost serasa orang gila aku. Senyam-senyum sendiri. Pokonya tak karuan lah.

Aku takut jika bertemu. Aku takut kalau aku tak mampu menahan perasaan ini. Kamis tanggal 24 Mei 2012 tepat aku berumur 23 tahun. Hari itu banyak sekali ucapan yang datang. Setelah kuliah matematika sekolah, aku ke selatan audit mengerjakan soal IUSB. Aku mencari- cari dia tapi tak kunjung aku melihatnya. Hari itu dia totalan.  Beberapa saat kemudian temanku wiwit memberi tahuku kalau dia baru saja datang. Akju cari-cari tapi tak kulihat. Biasanya aku selalu melihatnya meskipun hanya rambutnya saja aku sudah tahu dimana posisinya. Namun hari itu aku tak melihat sama sekali. Dalm hati kecewa namun, aku juga bersyukur karena aku tak ingin terlalu dalam terbawa perasaan ini. Siang hari menjelang dzuhur q pun ke perpus. Hari itu benar-benar bingung tak tahu harus kemana ya sudah q putuskan untuk ke perpustakaan. Begitu aku sampai di depan perpus hatiku benar-benar kaget. Ternyata dia disitu. Aku pun dengan langkah tegap tetap berjalan masuk ke dalam perpustakaan.  Pura-pura tidak mmelihatnya.

Aku langsung menuju lantai dua mencari stop kontak karena di ruang skripsi penuh. Aku pun langsung OL. Beberapa menit kemudian namnaya muncul dalam obrolan ku. Menanyakan dimana posisiku. Dengan kepurapuraan aku menjawab di perpustakaan dan aku pun bertanya balik. Disitu muncul percakapan lagi. Dia mengatakan di depan perpustakaan. Obrolan pun berlanjut samp[ai terdenganr suara adan. Setelah solat di mashid dekat pepustakaan selesai, aku pun turun untuk menuju ke masajid. Di depan ternyata sudah tidak ada dia, antara senang dan juga kecewa. Senang karena tak harus deg-deg an saat bertemu dan kecewa karena tak bisa melihat senyumnya yang subkhanallah sekali. Setelah sholat aku menuju ke perpustakaan lagi menempati tempat dimana aku duduk tadi. Beberapa saat kemudian ada sesosok orang yang berdiri di samping ku. Subkhanallah ternyata dia. Dia melontarkan senyumnya dan bertanya kepada ku dengan siapa aku disitu. Hal yang sama aku tanyakan kepadanya, dia bersama temnannya. Dia pun pamit untuk mencari buku. Setelah dia kembali senyum itu pun kembali menjulang di wajahnya, dan aku pun membalas senyumnya. Dia menuju tempat duduk, sesaat dia berhenti di belakng ku, namun tak lama kemudian dia meuju ke sebuah meja. Sebenarnya meja sampingku kosong, hemmm ingin rasanya duduk di sampingnya. Tapi tak palah dia diseberang sana.

Satu jam an aku dan dia di dalam perpustakaan. Disitu kita juga chat di FB seperti biasa. Dia off, dan pamit, tapi aku tak tahu dia bilang apa ketika pamit karena suara nya tidak begitu terdengar jelas. Aku hanya menjawab iya dank u sunggingkan senyuman ku. Tak lama kemudian aku melihat tanda di FB ku bahwa dia masih OL. Aku tanya dan beberapa saat kemudian HP q berketar ternyata dia sms aku, dan mengatakan bahwa dia di depan perpustakaan. Obrolan kami pun lanjut di obrolan FB. Adzan asar menghentikan aktifitas kita. Aku menuju masjid setelah solat berjamaah masjid selesai. Ketika aku mau wudlu melihat dia sudah selesai sholat. Ketika aku selesai wudlu dia sudah berjalan meninggalkan kampus menuju pondok bersama temannya. Ku pandangi punggung nya perlahan-lahan dia mulai menghilang dari pandanganku, namun kaos merahnya masih begitu kentara dalam ingatan ku karena baru pertama kali itu aku melihatnya mengenakan kaos itu.

Jumat tanggal 1 juni pun aku ke perpu lagi, tepatnya setelah sholat dzuhur. Diasana tak ingin aku bertemu dengannya. Aku memasuki area perpus dan tak ku lihat dia. Lega rasanya , karena aku takut jika terus-terusan bertemu dengannya. Aku mencari-cari buku yang ku inginkan dari rak buku tentang pendidikan kemudian aku berpindah ke rak buku agama dan kemuhammadiyahan. Saat aku memilah-nilah buku tiba-tiba ada sesosok yang berjalan ke arah timur, kemudian ia kembali lagi. Subkhnallah ternyata dia. Kami pun ngobrol sebentar. Begitu gugupnya aku sampai-sampai taka da kata yang keluar dengan leluasa. Aku hanya menjawab pertannyaan nya seperlunya. Kemudian dia pamit untuk mencari buku. Setelah dia selesai mencari buku dia pun mampir di lorong buku yang aku tempati. Kami pun ngobrol lagi, namun masih sama seperti sebelumnya aku tak banyak bicara. Dia pun pamit dengan mengambil satu buku entah buku itu yang dia cari atau sekedar pantas-pantas saja.

Sejak saat itu seolah-olah dalam setiap tikungan kampus aku melihatnya. Aku tak mau tapi aku selalu mencari ketika aku tak melihatnya. Terakhir kali aku bertemu dengannya senin 4 juni 2012 di hall masjid kampus saat aku mau sholat dzuhur. Dengan senyumnya yang subkhanallah sekali sapaan ku terbalas. Setelah itu aku hanya melihatnya dari kejauhan saja, dan akhir-akhir ini aku tak pernah melihatnya. Di FB pun aku jarang ketemu karena aku jarang FB an juga untuk saat ini. Ku tautkan hati ini pada sang ilahi karena Dia yang tahu mana yang terbaik bagi ku. Jika dia memang jodoh ku suatu saat aku pasti kan bertemu dengannya lagi, dalam waktu dan suasana yang subkhanallah sekali. Tapi jika bukan dia aku pun bersyukur karena aku pernah mengenal orang seperti dia yang telah mengisi cerita hidupku yang tak kan pernah ku lupakan. Mungkin di tempat kau berasal sudah ada peri cantik yang menunggumu, tapi aku tak tahu apakah dia tulang rusukmu, aku hanya bisa pasrah terhadap suratan takdir ku. Semua bermula diperpustakaan dan berakhir pula di perpustakaan, suatu saat nanti aku berharap kan bertemu lagi diperpustakaan dalam waktu yang telah diridhionya jika Allah mengijinkan. Saat ini ku sebutkan namamu dalam setiap doaku dan aku tak mau merindu. Q titipka hatiku dan hatinya pada Mu.

Surakarta, 12 Juni 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s